
| Home | Gunung Kelud | Besuki | Puhsarang | Monumen | Pamenang | Ubalan | Bendungan | Candi |
|---|
Hijaunya menghampar di permukaan. Membisikkan pesan-pesan abadi yang menyuguhkan beribu keindahan.
Berdiri di tepi danau kawah ini, kita bisa melihat puncak
Gunung Kelud, Gajah Mungkur, dan Sumbing. Lengkap dengan ukiran alam di
dinding gunung, pepohonan liar, dan kabut yang sesekali turun menyapa.
Puas memandang sekeliling, saatnya memasukkan kaki ke danau dan merasakan
hangatnya air belerang. Katanya, air kawah ini bisa mengobati problem gatal
kulit dan rematik. Jika kondisi memungkinkan, bolehlah berendam atau berenang,
asal tak melebihi batas yang ditentukan.
Memang, bicara aspek keamanan, Pemerintah Kabupaten Kediri tak mau main-main
membuat batasan. Selain pembatas area aman untuk berenang, papan pengumuman
juga dipajang di beberapa sudut. Maklum, danau kawah yang menawan ini memang
bagian dari kawah gunung yang masih aktif.
Sejarah mencatat, Gunung Kelud, ada yang menyebut dengan nama Kelut, Klut,
atau Coloot, merupakan gunung berapi yang masih aktif. Sejak tahun 1000
hingga kini, gunung yang berdiri megah ini sudah meletus hingga lebih dari
30 kali. Ini yang jadi alasan, di masa pemerintahannya, Raja Hayam Wuruk
tak pernah lupa menjalankan ritual khusus untuk berziarah dan bersembah
bakti pada Hyang Acalapati di tempat ini. Hayam Wuruk konon rajin berdoa
memohon keselamatan agar semua makhluk bisa terselamatkan jika Gunung Kelud
meletus.
Di sisi lain, status gunung yang puncaknya berada 1731 meter di atas permukaan
laut (dpl) ini memberi keuntungan lebih bagi kualitas tanah di sekitar Kelud.
Di sepanjang jalan menuju Kelud, mulai dari Wates hingga hingga perkebunan
Margomulyo, Desa Sugihwaras, Kecamatan Ngancar, kita bisa melihat banyak
ragam tanaman tumbuh dengan subur. Mulai dari nanas, cengkeh, pepaya, pisang,
kopi, dan lain sebagainya.